Sumber: Investopedia | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Negosiasi tawaran kerja menjadi momen krusial yang dapat menentukan arah karier dan kualitas kesejahteraan jangka panjang.
Banyak kandidat merasa canggung atau ragu saat harus membicarakan gaji, tunjangan, dan fasilitas lain, padahal tahap ini justru memberi ruang untuk memperjuangkan nilai diri secara profesional.
Jika tidak dilakukan dengan strategi yang tepat, proses ini bisa membuat peluang finansial dan pengembangan karier menjadi kurang maksimal.
Baca Juga: Pendaftaran Rekrutmen GMF 2025 Dibuka, Kembangkan Bakat di Industri Perbaikan Pesawat
Dilansir dari Investopedia, negosiasi yang keliru sering kali membuat kandidat kehilangan potensi pendapatan dan manfaat tambahan yang seharusnya bisa diperoleh.
Agar hasil negosiasi lebih menguntungkan dan tetap menjaga hubungan baik dengan perusahaan, penting untuk memahami kesalahan umum yang kerap terjadi.
Dengan menghindarinya, Anda dapat tampil lebih percaya diri sekaligus menunjukkan sikap profesional yang matang di mata pemberi kerja.
Kurang Persiapan dan Riset Mendalam
Masuk ke tahap negosiasi gaji tanpa bekal riset membuat posisi Anda menjadi lemah dan tidak meyakinkan.
Kandidat perlu memahami standar gaji untuk posisi yang dilamar, termasuk kisaran upah berdasarkan pengalaman dan wilayah kerja.
Persiapan juga mencakup penentuan batas minimum yang masih bisa diterima agar keputusan tetap rasional.
Menganggap Negosiasi Sebagai Adu Kekuatan
Negosiasi bukan ajang saling mengalahkan, melainkan proses menemukan titik temu terbaik bagi kedua pihak.
Sikap terlalu agresif justru dapat menimbulkan kesan tidak kooperatif dan merusak suasana diskusi. Pendekatan kolaboratif akan membantu membangun komunikasi yang sehat dan saling menghargai.
Baca Juga: Bank BTN Buka Pendaftaran RLDP 2025, Cek Syarat Daftarnya Ini
Terjebak Bias Penilaian Diri
Bias kognitif sering membuat kandidat menilai situasi secara tidak objektif. Ada yang terlalu percaya diri sehingga menuntut di luar gaji yang seharusnya, ada pula yang terlalu fokus pada satu aspek seperti gaji besar tetapi mengabaikan jam kerja yang berat.
Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh komponen tawaran sangat penting agar keputusan lebih seimbang.
Membiarkan Emosi Menguasai Situasi
Reaksi emosional terhadap tawaran yang dianggap rendah dapat merugikan posisi tawar Anda.
Sikap defensif atau tersinggung membuat komunikasi menjadi kaku dan tidak produktif.
Pengendalian emosi membantu menjaga profesionalisme sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih konstruktif.
Mengabaikan Manfaat di Luar Gaji
Gaji bukan satu-satunya indikator nilai sebuah tawaran kerja. Fasilitas seperti asuransi kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, cuti, fleksibilitas waktu, dan program pengembangan diri juga memiliki nilai signifikan.
Menilai keseluruhan paket kompensasi akan memberi gambaran lebih realistis tentang manfaat jangka panjang.
Tidak Mengajukan Penawaran Balik
Langsung menerima tawaran pertama sering kali membuat kandidat kehilangan peluang mendapatkan nilai lebih baik.
Mengajukan penawaran balik dengan cara sopan menunjukkan bahwa Anda memahami nilai diri dan pengalaman yang dimiliki.
Dikutip dari Investopedia, perusahaan umumnya telah memperhitungkan adanya ruang untuk negosiasi dalam penawaran awal.
Tonton: Banjir Besar Menerjang Indonesia, Thailand, dan Malaysia
Bersikap Tidak Etis Saat Bernegosiasi
Kejujuran menjadi fondasi utama dalam hubungan profesional. Melebih-lebihkan pengalaman atau memalsukan tawaran lain dapat merusak reputasi secara permanen.
Sikap etis akan membangun kepercayaan dan memperkuat citra Anda sebagai kandidat yang dapat diandalkan.
Selanjutnya: 6 Film Tentang Persahabatan Manusia dan Anjing Menggemaskan
Menarik Dibaca: 6 Film Tentang Persahabatan Manusia dan Anjing Menggemaskan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













